Selasa, 10 Juni 2014

LAPORAN PENGUJIAN DAYA KECAMBAH BENIH CABAI DAN KEDELAI

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI BENIH


MATERI IV
PENGUJIAN DAYA KECAMBAH BENIH











Disusun oleh :
Kelompok IVB Agroekoteknologi

Dian W. Tambunsaribu
Dimas Bima Taghfir
Jessica Raditya
Nyoman Adhitya Putra D.
Sari Noor Hidayah

  




JURUSAN S1 AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG

2014


BAB I
PENDAHULUAN
            Viabilitas benih dapat diketahui dengan melakukan pengujian benih. Berbagai macam metode pengujian benih dibuat untuk mendeteksi parameter viabilitas benih. Pengujian daya kecambah benih digunakan untuk mendeteksi parameter viabilitas potensial benih. Daya kecambah benih adalah tolak ukur bagi kemampuan benih untuk tumbuh normal dan berproduksi normal pada kondisi lingkungan yang optimum
            Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui beberapa metode uji daya kecambah benih serta dapat mendeteksi viabilitas potensial benih dengan tolak ukur daya kecambah benih.
Manfaat dari praktikum ini adalah agar mahasiswa mengetahui metode pengujian daya kecambah benih sehingga mahasiswa dapat menghitung dan mengidentifikasi tinggi atau rendah daya kecambah benih yang diuji tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.      Viabilitas Benih
Viabilitas benih adalah daya hidup benih untuk berkecambah (Sunanta, 1990). Viabilitas benih dilakukan pada kondisi optimum bagi benih untuk berkecambah. Faktor yang mempengaruhi viabilitas benih antara lain suhu dan kelembaban udara di sekitar tempat penyimpanan (Mulyana dan Asmarahman, 2012). Faktor yang lain adalah air dan jika benih kekurangan air maka benih akan mengalami stres yang menyebabkan perkecambahan pada benih terganggu (Setiadi, 2009). Manfaat lain dari pengujian viabilitas benih adalah dapat mengetahui perlakuan yang tepat saat penyimpanan benih. Penyimpanan benih dilakukan untuk mempertahankan viabilitas maksium selama mungkin (Nurlaela et al., 2008).

2.2.      Daya Kecambah
          Daya berkecambah benih adalah tolok ukur bagi kemampuan benih untuk tumbuh normal. Uji daya kecambah dilakukan untuk mengetahui potensi benih yang dapat berkecambahdari suatu kelompok atau satuan berat benih (Mulyana dan Asmarahman, 2012). Air merupakan salah satu faktor yang sangat berperan terhadap perkecambahan dan pertumbuhan benih (Gardner et al., 1991). Secara umum, cara pengujian daya kecambah benih dapat dibedakan menjadi dua yaitu secara langsung dan tidak langsung. Pengujian secara langsung dilakukan untuk benih yang mudah berkecambah, sedangkan pengujian secara tidak langsung dilakukan untuk benih yang sulit berkecambah (Gunawan, 2011). Pengujian daya kecambah benih bermanfaat untuk menentukan benih per satuan luas lahan dan mengecek kualitas benih (Rukmana, 2002). Faktor-faktor yang mempengaruhi daya kecambah benih adalah kemasakan benih, kadar air, dormansi, oksigen, temperatur, cahaya, dan zat penghambat perkecambahan (Sadjad, 1977).

2.3.      Uji Diatas Kertas
       Uji daya kecambah benih dimana contoh kerja diletakkan di atas substrat kertas yang telah di-lembabkan (Winarto, 2006). Metode ini sangat baik digunakan untuk benih yang membutuhkan cahaya bagi perkecambahannya (Qamara, 1990) Kertas merang digunakan dalam metode UDK karena kertas merang memiliki daya mempertahankan air yang tinggi, walaupun tujuh hari tidak diberi air (Suwarno dan Hapsari, 2007).

2.4.      Uji Kertas Digulung
       Uji daya kecambah benih dimana contoh kerja diletakkan di antara substrat kertas yang telah dilembabkan lalu digulung (Winarto, 2006). Uji Kertas Digulung dalam Plastik (UKDdp) dilakukan dengan tujuan untuk memperkuat kertas substrat agar tidak tembus oleh akar yang dapat mengakibatkan kertas substrat menjadi rusak sehingga pengamatan menjadi sulit dilakukan (Qamara, 1990). Media kertas digulung akan mempermudah dalam mengontrol suhu, kelembaban, intensitas cahaya, dan kondisi air dari media untuk pertumbuhan benih yang optimal (Kamil, 1979).

2.5.      Cabai
           Cabai merupakan tanaman hortikultura yang buahnya digunakan untuk keperluan aneka ragam. Benih cabai biasanya mempunyai sifat daya berkecambah yang cepat (Rukmana, 2002). Perendaman benih cabai dapat meningkatkan daya berkecambah (Taringan dan Wiryanta, 2003).


BAB III
MATERI DAN METODE
Praktikum Pengujian Daya Berkecambah Benih dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 17 Mei 2014 pukul 07.00 – 09.00 WIB. Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Pemuliaan Tanaman, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1.      Materi
Praktikum Teknologi Benih dengan materi Pengujian Daya Berkecambah Benih, alat yang digunakan adalah cawan petri sebagai tempat media tumbuh benih, tissue sebagai media untuk menanam benih, plastik untuk melapisi bagian luar media tissue, dan karet untuk merapatkan gulungan media. Bahan yang digunakan adalah benih cabai dan benih kedelai sebagai benih yang akan diuji-cobakan dan air untuk melembabkan media tanam benih.

3.2.      Metode
Praktikum Teknologi Benih dengan materi Pengujian Daya Berkecambah Benih dilakukan dengan dua metode, yaitu metode UDK (Uji Diatas Kertas) dan metode UKDdp (Uji Kertas Digulung dalam Plastik). Metode UDK dilakukan dengan menyiapkan tiga cawan petri, melapisinya dengan tissue, menetesi tissue tersebut dengan air hingga merata, memiringkan cawan, membuang air yang berlebih, menanam 20 benih cabai pada masing-masing cawan petri. Metode UKDdp dilakukan dengan menanam 60 benih kedelai di atas lima lembar tissue yang di bagian bawahnya dilapisi plastik, membasahi dengan air, menutup dengan lima lembar tissue, membasahi lagi dengan air hingga media menjadi lembab, menggulung media, merapatkan dengan karet.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.      Daya Kecambah Benih Cabai
            Berdasarkan hasil praktikum dengan materi daya kecambah pada benih cabai diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Perhitungan Benih Cabai.
Benih Cabai
Daya Berkecambah
Ulangan 1
15%
Ulangan 2
65%
Ulangan 3
65%
Rata-rata
48,34%

Daya kecambah benih cabai pada U1 adalah 15%, pada U2 dan U3 adalah 65% sehingga daya kecambah rata-rata pada benih cabai adalah 48,34%. Daya kecambah benih sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana benih itu tumbuh, yaitu diantaranya berupa media tumbuh, kadar air, dan cahaya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sadjad (1977) yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi daya kecambah benih adalah kemasakan benih, kadar air, dormansi, oksigen, temperatur, cahaya, dan zat penghambat perkecambahan. Media tumbuh berpengaruh untuk mengatur kadar air (kelembaban) yang dibutuhkan oleh benih. Media yang digunakan adalah berupa tissue sebagai alasnya kemudian benih cabai ditanam di atas media tersebut sehingga metode ini disebut dengan metode UDK. Media tissue kurang efektif dalam menjaga kadar air benih karena tissue cenderung cepat kering bila dibandingkan dengan kertas merang yang mampu menjaga kadar air lebih baik dan lebih lama. Hal ini sesuai dengan pendapat Suwarno dan Hapsari (2007) yang menyatakan bahwa kertas merang memiliki daya mempertahankan air yang tinggi, walaupun tujuh hari tidak diberi air.
Kadar air dan cahaya juga berpengaruh dalam proses perkecambahan, jika terlalu sedikit ataupun terlalu banyak akan berdampak kurang baik pada perkecambahan benih. Kadar air dan cahaya yang dibutuhkan pada proses perkecambahan benih cabai ini sangatlah kurang karena penyiraman tidak dilakukan secara teratur dan benih diletakkan di dalam ruang tertutup. Menurut Setiadi (2009), benih akan mengalami stres jika kekurangan air yang menyebabkan perkecambahan pada benih terganggu. Sadjad (1977) juga berpendapat bahwa intensitas cahaya yang kurang akan menyebabkan benih mengalami etiolasi, atau jika tidak diimbangi dengan air yang cukup maka benih itu akan terganggu daya kecambahnya.

4.2.      Daya Kecambah Benih Kedelai
Berdasarkan hasil praktikum dengan materi daya kecambah pada benih kedelai diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 2. Hasil Perhitungan Benih Kedelai.
Benih Kedelai
Daya Berkecambah
Ulangan 1
90%
Ulangan 2
95%
Ulangan 3
95%
Rata-rata
93,34%

            Jumlah benih yang tumbuh normal adalah 52 benih, abnormal 4 benih, dan mati 4 benih. Daya berkecambah benih kedelai pada percobaan ini adalah sebesar 93,34%. Daya kecambah benih kedelai adalah tinggi dengan nilai tersebut, nilai tinggi tersebut didapatkan dengan menggunakan metode UKDdp dan perlakuan yang baik yaitu dengan melakukan penyiraman secara teratur terhadap benih sehingga kadar air pada benih tercukupi. Menurut Gardner et al. (1991), air merupakan salah satu faktor yang sangat berperan terhadap perkecambahan dan pertumbuhan benih. Selain air, cahaya juga berpengaruh dalam proses perkecambahan. Karena benih diletakkan di ruang terbuka maka perkecambahan benih dapat berlangsung dengan baik karena benih mendapat penyinaran yang cukup ditambah dengan kadar air benih yang tercukupi. Metode UKDdp digunakan karena memudakan dalam mengontrol berbagai kondisi yang dibutuhkan oleh benih untuk tumbuh dengan baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Kamil (1979) yang menyatakan bahwa media kertas digulung akan mempermudah dalam mengontrol suhu, kelembaban, intensitas cahaya, dan kondisi air dari media untuk pertumbuhan benih yang optimal.



BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
 5.1.     Simpulan
            Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dapat diambil kesimpulan bahwa perkecambahan benih dapat dilakukan dengan metode UDK dan UKDdp. Metode UDK menghasilkan daya kecambah yang rendah pada benih cabai karena kurang baiknya perlakuan terhadap benih selama proses perkecambahan. Metode UKDdp dengan benih kedelai menghasilkan daya kecambah yang tinggi karena saat proses perkecambahan benih mendapat perlakuan yang baik.

5.2.      Saran
            Sebaiknya praktikan melakukan perlakuan yang lebih baik dalam melakukan praktikum sehingga dapat mendapatkan hasil yang optimum. Perlakuan tersebut diantaranya adalah menyiram benih secara teratur sehingga benih memperoleh asupan air yang cukup dan dapat tumbuh (berkecambah) dengan baik.



DAFTAR PUSTAKA
Gardner, F. P., R. B. Pearce, dan R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI Press, Jakarta.

Gunawan. 2011. Untung Besar dari Usaha Pembibitan Kayu. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Kamil, J. 1979. Teknologi Benih. Angkasa, Bandung.

Mulyana dan Asmarahman. 2012. Untung Besar dari Bertanam Sengon. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Nurlaela, I., S. Yati, dan Y. Yuyu. 2008. Tanaman Sayur. Penebar Swadaya, Jakarta.

Qamara, M. 1990. Pengantar Produksi Benih. CV Rajawali, Jakarta.

Rukmana, R. 2002. Usaha Tani Cabai Rawit. Kanisius, Yogyakarta.

Sadjad, S.  1977. Produksi Benih Berkualitas Tinggi untuk Menunjang Produksi Pangan. Proc. Kursus Singkat Pengujian Benih. IPB, Bogor.

Setiadi. 2009. Budidaya Kentang. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sunanta, H. 1990. Budidaya Lengkeng dan Aspek Ekonominya. Kanisius, Yogyakarta.

Suwarno, F. C., dan I. Hapsari. 2008. Studi alternatif substrat kertas untuk pengujian viabilitas benih dengan metode uji UKDdp. Bul. Agron. (36) (31) 84 – 91.

Taringan, S. Dan W. Wiryanta. 2003. Bertanam Cabai Hibrida secara Intensif. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Winarto, B. 2006. Kamus Rimbawan. Yayasan Bumi Indonesia Hijau, Jakarta.



LAMPIRAN
Lampiran 1. Perhitungan Daya Kecambah Benih Cabai
Benih Cabai
Jumlah
Daya Berkecambah
Tumbuh
Mati
Ulangan 1
3
17
15%
Ulangan 2
13
7
65%
Ulangan 3
13
7
65%
Total
29
31
-
Rata-rata
-
-
48,34%

Lampiran 2. Perhitungan Daya Kecambah Benih Kedelai
Benih Kedelai
Jumlah Tumbuh
Daya Berkecambah
Normal
Abnormal
Mati
Ulangan 1
17
1
2
90%
Ulangan 2
16
3
1
95%
Ulangan 3
19
-
1
95%
Total
52
4
4
-
Rata-rata
-
-
-
93,34%


Tidak ada komentar:

Posting Komentar