LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI BENIH
MATERI IV
PENGUJIAN
DAYA KECAMBAH BENIH
Disusun oleh :
Kelompok IVB
Agroekoteknologi
Dian W.
Tambunsaribu
Dimas Bima
Taghfir
Jessica
Raditya
Nyoman Adhitya
Putra D.
Sari Noor
Hidayah
JURUSAN S1
AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PETERNAKAN
DAN PERTANIAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
Viabilitas benih dapat diketahui dengan melakukan pengujian
benih. Berbagai macam metode pengujian benih dibuat untuk mendeteksi parameter
viabilitas benih. Pengujian daya kecambah benih digunakan untuk mendeteksi
parameter viabilitas potensial benih. Daya kecambah benih adalah tolak ukur
bagi kemampuan benih untuk tumbuh normal dan berproduksi normal pada kondisi
lingkungan yang optimum
Tujuan dari praktikum ini adalah
untuk mengetahui beberapa metode uji daya kecambah benih serta dapat mendeteksi
viabilitas potensial benih dengan tolak ukur daya kecambah benih.
Manfaat
dari praktikum ini adalah agar mahasiswa mengetahui metode pengujian daya
kecambah benih sehingga mahasiswa dapat menghitung dan mengidentifikasi tinggi
atau rendah daya kecambah benih yang diuji tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Viabilitas
Benih
Viabilitas benih adalah daya hidup benih untuk berkecambah (Sunanta, 1990). Viabilitas benih dilakukan pada kondisi optimum bagi benih untuk berkecambah. Faktor yang mempengaruhi viabilitas benih antara lain suhu dan kelembaban udara di sekitar tempat penyimpanan (Mulyana dan Asmarahman, 2012). Faktor yang lain
adalah air dan jika benih kekurangan air maka benih akan mengalami stres yang
menyebabkan perkecambahan pada benih terganggu (Setiadi, 2009). Manfaat lain dari pengujian viabilitas
benih adalah dapat mengetahui perlakuan yang tepat saat penyimpanan benih.
Penyimpanan benih dilakukan untuk mempertahankan viabilitas maksium selama
mungkin (Nurlaela et al., 2008).
2.2. Daya
Kecambah
Daya berkecambah benih adalah tolok
ukur bagi kemampuan benih untuk tumbuh normal. Uji daya kecambah dilakukan
untuk mengetahui potensi benih yang dapat berkecambahdari suatu kelompok atau
satuan berat benih (Mulyana dan Asmarahman, 2012). Air merupakan salah satu faktor
yang sangat berperan terhadap perkecambahan dan pertumbuhan benih (Gardner et al., 1991). Secara umum, cara pengujian daya
kecambah benih dapat dibedakan menjadi dua yaitu secara langsung dan tidak
langsung. Pengujian secara langsung dilakukan untuk benih yang mudah
berkecambah, sedangkan pengujian secara tidak langsung dilakukan untuk benih
yang sulit berkecambah (Gunawan, 2011). Pengujian daya kecambah benih
bermanfaat untuk menentukan benih per satuan luas lahan dan mengecek kualitas
benih (Rukmana, 2002). Faktor-faktor yang
mempengaruhi daya kecambah benih adalah kemasakan benih, kadar air, dormansi,
oksigen, temperatur, cahaya, dan zat penghambat perkecambahan (Sadjad, 1977).
2.3. Uji
Diatas Kertas
Uji daya kecambah benih dimana contoh
kerja diletakkan di atas substrat kertas yang telah di-lembabkan (Winarto,
2006). Metode ini sangat baik digunakan untuk benih yang membutuhkan cahaya bagi
perkecambahannya (Qamara, 1990)
Kertas merang digunakan dalam metode UDK karena kertas merang memiliki daya mempertahankan air yang tinggi, walaupun tujuh hari tidak diberi air (Suwarno dan Hapsari, 2007).
2.4. Uji
Kertas Digulung
Uji daya kecambah benih dimana contoh
kerja diletakkan di antara substrat kertas yang telah dilembabkan lalu digulung
(Winarto, 2006). Uji Kertas Digulung dalam Plastik (UKDdp) dilakukan dengan tujuan untuk
memperkuat kertas substrat agar tidak tembus oleh akar yang dapat mengakibatkan
kertas substrat menjadi rusak sehingga pengamatan menjadi sulit dilakukan (Qamara, 1990). Media kertas digulung akan mempermudah dalam mengontrol
suhu, kelembaban, intensitas cahaya, dan kondisi air dari media untuk
pertumbuhan benih yang optimal (Kamil, 1979).
2.5. Cabai
Cabai merupakan tanaman
hortikultura yang buahnya digunakan untuk keperluan aneka ragam. Benih cabai
biasanya mempunyai sifat daya berkecambah yang cepat (Rukmana, 2002).
Perendaman benih cabai dapat meningkatkan daya berkecambah (Taringan dan
Wiryanta, 2003).
BAB III
MATERI DAN METODE
Praktikum Pengujian Daya
Berkecambah Benih dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 17 Mei 2014 pukul 07.00
– 09.00 WIB. Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Pemuliaan
Tanaman, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.
3.1. Materi
Praktikum Teknologi Benih dengan
materi Pengujian Daya Berkecambah Benih, alat yang digunakan adalah cawan petri
sebagai tempat media tumbuh benih, tissue sebagai media untuk menanam benih,
plastik untuk melapisi bagian luar media tissue, dan karet untuk merapatkan
gulungan media. Bahan yang digunakan adalah benih cabai dan benih kedelai
sebagai benih yang akan diuji-cobakan dan air untuk melembabkan media tanam
benih.
3.2. Metode
Praktikum Teknologi Benih dengan
materi Pengujian Daya Berkecambah Benih dilakukan dengan dua metode, yaitu
metode UDK (Uji Diatas Kertas) dan metode UKDdp (Uji Kertas Digulung dalam
Plastik). Metode UDK dilakukan dengan menyiapkan tiga cawan petri, melapisinya
dengan tissue, menetesi tissue tersebut dengan air hingga merata, memiringkan
cawan, membuang air yang berlebih, menanam 20 benih cabai pada masing-masing
cawan petri. Metode UKDdp dilakukan dengan menanam 60 benih kedelai di atas
lima lembar tissue yang di bagian bawahnya dilapisi plastik, membasahi dengan
air, menutup dengan lima lembar tissue, membasahi lagi dengan air hingga media
menjadi lembab, menggulung media, merapatkan dengan karet.
BAB IV
HASIL DAN
PEMBAHASAN
4.1. Daya Kecambah Benih Cabai
Berdasarkan hasil praktikum dengan
materi daya kecambah pada benih cabai diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil
Perhitungan Benih Cabai.
|
Benih Cabai
|
Daya Berkecambah
|
|
Ulangan 1
|
15%
|
|
Ulangan 2
|
65%
|
|
Ulangan 3
|
65%
|
|
Rata-rata
|
48,34%
|
Daya kecambah benih cabai pada U1
adalah 15%, pada U2 dan U3 adalah 65% sehingga daya kecambah rata-rata pada benih
cabai adalah 48,34%. Daya kecambah benih sangat dipengaruhi oleh lingkungan
dimana benih itu tumbuh, yaitu diantaranya berupa media tumbuh, kadar air, dan
cahaya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sadjad (1977) yang menyatakan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi daya kecambah benih adalah kemasakan benih,
kadar air, dormansi, oksigen, temperatur, cahaya, dan zat penghambat
perkecambahan. Media tumbuh berpengaruh untuk mengatur kadar air (kelembaban)
yang dibutuhkan oleh benih. Media yang digunakan adalah berupa tissue sebagai
alasnya kemudian benih cabai ditanam di atas media tersebut sehingga metode ini
disebut dengan metode UDK. Media tissue kurang efektif dalam menjaga kadar air
benih karena tissue cenderung cepat kering bila dibandingkan dengan kertas
merang yang mampu menjaga kadar air lebih baik dan lebih lama. Hal ini sesuai
dengan pendapat Suwarno dan Hapsari (2007) yang menyatakan bahwa kertas merang
memiliki daya mempertahankan air yang tinggi, walaupun tujuh hari tidak diberi
air.
Kadar air dan cahaya juga berpengaruh
dalam proses perkecambahan, jika terlalu sedikit ataupun terlalu banyak akan
berdampak kurang baik pada perkecambahan benih. Kadar air dan cahaya yang
dibutuhkan pada proses perkecambahan benih cabai ini sangatlah kurang karena penyiraman
tidak dilakukan secara teratur dan benih diletakkan di dalam ruang tertutup.
Menurut Setiadi (2009), benih akan mengalami stres jika kekurangan air yang
menyebabkan perkecambahan pada benih terganggu. Sadjad (1977) juga berpendapat
bahwa intensitas cahaya yang kurang akan menyebabkan benih mengalami etiolasi,
atau jika tidak diimbangi dengan air yang cukup maka benih itu akan terganggu
daya kecambahnya.
4.2. Daya Kecambah Benih Kedelai
Berdasarkan hasil praktikum
dengan materi daya kecambah pada benih kedelai diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 2. Hasil
Perhitungan Benih Kedelai.
|
Benih Kedelai
|
Daya Berkecambah
|
|
Ulangan 1
|
90%
|
|
Ulangan 2
|
95%
|
|
Ulangan 3
|
95%
|
|
Rata-rata
|
93,34%
|
Jumlah benih
yang tumbuh normal adalah 52 benih, abnormal 4 benih, dan mati 4 benih. Daya berkecambah
benih kedelai pada percobaan ini adalah sebesar 93,34%. Daya kecambah benih
kedelai adalah tinggi dengan nilai tersebut, nilai tinggi tersebut didapatkan
dengan menggunakan metode UKDdp dan perlakuan yang baik yaitu dengan melakukan
penyiraman secara teratur terhadap benih sehingga kadar air pada benih
tercukupi. Menurut Gardner et al.
(1991), air merupakan salah satu faktor yang sangat berperan terhadap
perkecambahan dan pertumbuhan benih. Selain air, cahaya juga berpengaruh dalam
proses perkecambahan. Karena benih diletakkan di ruang terbuka maka
perkecambahan benih dapat berlangsung dengan baik karena benih mendapat
penyinaran yang cukup ditambah dengan kadar air benih yang tercukupi. Metode
UKDdp digunakan karena memudakan dalam mengontrol berbagai kondisi yang
dibutuhkan oleh benih untuk tumbuh dengan baik. Hal ini sesuai dengan pendapat
Kamil (1979) yang menyatakan bahwa media kertas digulung akan mempermudah dalam
mengontrol suhu, kelembaban, intensitas cahaya, dan kondisi air dari media
untuk pertumbuhan benih yang optimal.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Simpulan
Berdasarkan praktikum yang telah
dilaksanakan dapat diambil kesimpulan bahwa perkecambahan benih dapat dilakukan
dengan metode UDK dan UKDdp. Metode UDK menghasilkan daya kecambah yang rendah
pada benih cabai karena kurang baiknya perlakuan terhadap benih selama proses
perkecambahan. Metode UKDdp dengan benih kedelai menghasilkan daya kecambah
yang tinggi karena saat proses perkecambahan benih mendapat perlakuan yang
baik.
5.2. Saran
Sebaiknya
praktikan melakukan perlakuan yang lebih baik dalam melakukan praktikum
sehingga dapat mendapatkan hasil yang optimum. Perlakuan tersebut diantaranya
adalah menyiram benih secara teratur sehingga benih memperoleh asupan air yang
cukup dan dapat tumbuh (berkecambah) dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Gardner, F. P., R.
B. Pearce, dan R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI Press,
Jakarta.
Gunawan. 2011. Untung Besar dari Usaha Pembibitan Kayu. Agro Media Pustaka,
Jakarta.
Kamil, J. 1979.
Teknologi Benih. Angkasa, Bandung.
Mulyana dan Asmarahman. 2012. Untung
Besar dari Bertanam Sengon. Agro Media Pustaka, Jakarta.
Nurlaela, I., S. Yati, dan Y. Yuyu. 2008. Tanaman Sayur. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Qamara, M. 1990. Pengantar Produksi
Benih. CV Rajawali, Jakarta.
Rukmana, R. 2002. Usaha Tani Cabai
Rawit. Kanisius, Yogyakarta.
Sadjad, S. 1977. Produksi Benih Berkualitas Tinggi untuk
Menunjang Produksi Pangan. Proc. Kursus Singkat Pengujian Benih. IPB, Bogor.
Setiadi. 2009. Budidaya Kentang.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Sunanta, H. 1990. Budidaya Lengkeng dan Aspek Ekonominya. Kanisius,
Yogyakarta.
Suwarno, F. C., dan
I. Hapsari. 2008. Studi alternatif substrat kertas untuk pengujian viabilitas
benih dengan metode uji UKDdp. Bul. Agron. (36) (31) 84 – 91.
Taringan, S. Dan W. Wiryanta. 2003.
Bertanam Cabai Hibrida secara Intensif. Agro Media Pustaka, Jakarta.
Winarto, B. 2006. Kamus Rimbawan.
Yayasan Bumi Indonesia Hijau, Jakarta.
LAMPIRAN
Lampiran 1.
Perhitungan Daya Kecambah Benih Cabai
|
Benih Cabai
|
Jumlah
|
Daya Berkecambah
|
|
|
Tumbuh
|
Mati
|
||
|
Ulangan 1
|
3
|
17
|
15%
|
|
Ulangan 2
|
13
|
7
|
65%
|
|
Ulangan 3
|
13
|
7
|
65%
|
|
Total
|
29
|
31
|
-
|
|
Rata-rata
|
-
|
-
|
48,34%
|
Lampiran 2.
Perhitungan Daya Kecambah Benih Kedelai
|
Benih Kedelai
|
Jumlah Tumbuh
|
Daya Berkecambah
|
||
|
Normal
|
Abnormal
|
Mati
|
||
|
Ulangan 1
|
17
|
1
|
2
|
90%
|
|
Ulangan 2
|
16
|
3
|
1
|
95%
|
|
Ulangan 3
|
19
|
-
|
1
|
95%
|
|
Total
|
52
|
4
|
4
|
-
|
|
Rata-rata
|
-
|
-
|
-
|
93,34%
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar